Bantul – Menjelang malam, tiga kelompok peserta menyusuri jalur berbeda di Kalurahan Muntuk, Kapanewon Dlingo, Kabupaten Bantul. Berbekal headlamp, mereka mengamati setiap sudut jalur untuk menemukan kehidupan liar yang selama ini berada tak jauh dari tempat tinggal warga.

Bunglon, ular, tokek, katak, hingga berbagai jenis satwa lainnya menjadi bagian dari temuan dalam pengamatan herpetofauna atau kelompok reptil dan amfibi. Bagi peserta, malam itu menjadi pengalaman untuk melihat lingkungan sekitar dengan cara yang berbeda.

Pengamatan tersebut merupakan bagian dari Bimbingan Teknis Pendataan Keanekaragaman Hayati yang dikemas dalam Jogja Biodiversity Festival (JBF) Chapter Bantul, 4–5 September 2026. Kegiatan yang dilaksanakan Balai KSDA Yogyakarta tersebut melibatkan Karang Taruna Kalurahan Muntuk, Yayasan Resiliensi Lingkungan (Relung) Indonesia, kader konservasi, pegiat lingkungan dan konservasi di Kabupaten Bantul, Dinas Lingkungan Hidup Bantul, Komunitas Jogja Biodiversity, serta pegawai Balai KSDA Yogyakarta. 

Sebelum turun ke lapangan, peserta mendapatkan materi mengenai konservasi, pendataan keanekaragaman hayati, serta teknik pendokumentasian satwa menggunakan telepon pintar. Peserta juga diperkenalkan dengan aplikasi Lestari yang dapat digunakan untuk mendukung pendataan keanekaragaman hayati. 

Kepala Seksi KSDA Wilayah II Balai KSDA Yogyakarta, Dr. Pairah, S.Si., M.P., yang mewakili Kepala Balai, mengatakan peningkatan kapasitas masyarakat menjadi bagian penting dalam mendukung pelestarian keanekaragaman hayati. 

“Harapannya, kegiatan ini dapat membangun komitmen bersama dalam mendukung pelestarian keanekaragaman hayati di Daerah Istimewa Yogyakarta melalui peningkatan kapasitas, pengetahuan, dan kemampuan peserta dalam pengelolaan satwa liar,” ujarnya.

Pada pengamatan malam, peserta dibagi menjadi tiga kelompok dan menyusuri jalur dengan karakter ekosistem yang berbeda. Kelompok pertama mengamati ekosistem sungai, sawah, dan tegalan di Banyunibo, Sangrahan. Kelompok kedua menyusuri ekosistem sungai, kebun, dan sawah di Lembah Bonjor, Tangkil, sedangkan kelompok ketiga mengamati ekosistem hutan tanaman, sawah, dan sungai di Karangasem.

Dari ketiga jalur tersebut, peserta mencatat beragam jenis herpetofauna dan satwa lainnya. Pengamatan tidak sekadar mencari dan mengenali satwa, tetapi juga melatih peserta mendokumentasikan setiap temuan menggunakan telepon pintar sebagai bagian dari pendataan keanekaragaman hayati.

“Mengeksplorasi potensi keanekaragaman hayati seperti menemukan harta. Data yang diperoleh menjadi kekayaan bagi Kalurahan Muntuk,” ujar Gunawan, S.Si., salah seorang fasilitator 

Menurutnya, pendataan perlu dilakukan secara berkelanjutan pada waktu dan musim yang berbeda. Kondisi musim kemarau, misalnya, dapat memengaruhi aktivitas sejumlah jenis herpetofauna sehingga pengamatan pada musim penghujan diperlukan sebagai pembanding.

Keesokan paginya, peserta kembali turun ke lapangan untuk mengamati burung. Dari pengamatan tersebut tercatat sedikitnya 25 jenis burung, termasuk tiga jenis yang masuk daftar dilindungi, yakni bubut jawa, elang ular bido, dan sikep madu asia.

Data tersebut menjadi baseline awal yang masih dapat dikembangkan melalui pengamatan secara rutin. Potensi keanekaragaman hayati yang ditemukan juga membuka peluang bagi Muntuk untuk mengembangkan kegiatan edukasi maupun ekowisata berbasis pengamatan satwa dengan tetap mengedepankan prinsip konservasi.

Bagi masyarakat, pengalaman dua hari tersebut tidak berhenti pada bertambahnya pengetahuan tentang satwa. Badri, salah seorang peserta, mengaku mulai melihat lingkungan sekitar dari sudut pandang berbeda.

“Melalui kegiatan ini kami jadi mengetahui berbagai potensi sumber daya alam yang ada di sekitar. Dari sini muncul rasa peduli, rasa memiliki, dan keinginan untuk menjaga alam,” katanya.

Sementara itu, Erva menyebut kegiatan tersebut menambah pengetahuan mengenai jenis burung, satwa liar, dan ekosistem sekaligus memperluas jejaring dengan sesama pegiat lingkungan.

Keterlibatan Karang Taruna Muntuk juga diharapkan menjadi modal penting untuk menjaga keberlanjutan upaya konservasi di tingkat masyarakat. Dukungan pemerintah kalurahan, penguatan kelompok, serta pendataan yang dilakukan secara rutin menjadi bagian yang dapat dikembangkan ke depan. 

Melalui JBF Chapter Bantul, Balai KSDA Yogyakarta mendorong masyarakat untuk mengenali keanekaragaman hayati di sekitar tempat tinggalnya. Sebab, semakin banyak kekayaan alam yang dikenali dan terdokumentasi, semakin besar pula peluang masyarakat untuk ikut menjaga keberadaannya  (THS).

 

Sumber informasi: Resor KSDA Wilayah Bantul 

Penulis naskah: Tim Humas Balai KSDA Yogyakarta

Penanggung jawab berita: Kepala Balai KSDA Yogyakarta

Kontak informasi: Call Center Balai KSDA Yogyakarta (0821-4444-9449)