Sleman – Di tengah rimbunnya kebun salak di lereng Gunung Merapi, seekor Punglor atau Anis Merah (Geokichla citrina) dapat menghabiskan sebagian besar waktunya tanpa banyak terlihat manusia. Burung ini dikenal pemalu dan lebih sering beraktivitas di lingkungan yang teduh, rimbun, dan memiliki banyak serasah di permukaan tanah. Suara kicauan burung masih terdengar di sejumlah kebun masyarakat di lereng Gunung Merapi. Salah satunya Punglor atau Anis Merah (Geokichla citrina), burung yang dikenal memiliki suara khas serta perilaku unik ketika berkicau.
Anis Merah memiliki ciri fisik yang cukup mudah dikenali. Bagian kepala dan tubuh bawahnya didominasi warna jingga kemerahan, sementara bagian punggung dan sayap berwarna abu-abu. Burung ini juga dikenal memiliki gaya berkicau yang khas dengan gerakan tubuh seperti berayun atau “teler”. Karakter tersebut membuatnya populer di kalangan penggemar burung kicau dan sering dijuluki “Raja Teler”.
Namun, di habitat alaminya, Anis Merah bukan sekadar burung dengan suara indah. Keberadaannya berkaitan erat dengan kondisi lingkungan tempatnya hidup. Burung ini cenderung menyukai habitat yang teduh, rimbun, lembap, dan memiliki lapisan serasah yang cukup di permukaan tanah.
Di lereng Merapi, karakter habitat tersebut dapat ditemukan pada kawasan hutan maupun kebun masyarakat, khususnya kebun salak. Lingkungan yang memiliki vegetasi beragam menyediakan tempat berlindung, mencari makan, hingga berkembang biak bagi Punglor.
Punglor, Burung Khas Lereng Merapi
Punglor merupakan salah satu jenis burung yang dapat ditemukan di kawasan hutan dan kebun lereng Gunung Merapi. Selain Anis Merah, terdapat pula jenis anis lainnya seperti Anis Hutan (Zoothera andromedae) dan Anis Gunung (Turdus poliocephalus).
Bagi masyarakat Sleman, Anis Merah memiliki nilai tersendiri. Punglor telah ditetapkan sebagai fauna identitas Kabupaten Sleman melalui Surat Keputusan Bupati Sleman Nomor 93/SK.KDH/A/1999. Keberadaannya menjadi bagian dari identitas keanekaragaman hayati wilayah utara Sleman.
Meski demikian, Punglor bukan burung yang selalu mudah dijumpai. Sifatnya yang pemalu dan kebiasaannya beraktivitas di habitat yang rimbun membuat burung ini relatif sulit diamati. Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya habitat yang masih memiliki tutupan vegetasi dan kondisi lingkungan yang mendukung.
Sebagai burung yang banyak mencari makan di sekitar permukaan tanah, Punglor memanfaatkan berbagai sumber pakan alami seperti cacing, belalang, jangkrik, ulat, dan larva serangga. Keberadaan serasah dan bahan organik di bawah vegetasi menjadi bagian penting dari habitatnya. Karena itu, keberadaan Punglor dapat menjadi salah satu gambaran mengenai masih tersedianya ruang ekologis bagi satwa liar di tengah lanskap yang juga dimanfaatkan manusia.
Kebun Masyarakat Menjadi Habitat
Kisah menarik Punglor di lereng Merapi terlihat dari cara burung ini memanfaatkan kebun masyarakat. Selama lebih dari satu setengah tahun, Balai KSDA Yogyakarta bersama Turgo Wildlife mengidentifikasi sembilan sarang Punglor di Turgo. Dari sembilan sarang tersebut, tiga berhasil menghasilkan enam individu baru. Lima sarang hilang akibat perburuan, sedangkan satu sarang diserang predator alami.
Sarang ditemukan di lokasi yang relatif dekat dengan aktivitas masyarakat, termasuk sekitar 20 meter dari permukiman. Beberapa vegetasi yang digunakan untuk bersarang antara lain pohon salak, nangka, dan bambu. Ketinggian sarang berkisar antara 2 hingga 13 meter dari permukaan tanah.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kebun masyarakat dapat menjadi bagian dari habitat satwa liar. Keberadaan pohon, bambu, semak, serasah, serta vegetasi lainnya menyediakan berbagai kebutuhan ekologis bagi satwa.
Bagi masyarakat, kondisi ini memberikan pesan penting bahwa aktivitas pemanfaatan lahan dan upaya konservasi dapat berjalan berdampingan. Kebun yang tetap mempertahankan unsur vegetasi alami dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus menyediakan ruang bagi keanekaragaman hayati.
Perburuan dan Perubahan Habitat Menjadi Ancaman
Di balik popularitasnya sebagai burung kicauan, Punglor menghadapi tekanan dari aktivitas manusia. Salah satunya adalah penangkapan burung liar untuk memenuhi permintaan pasar burung kicau.
Hasil pengamatan di Turgo menunjukkan persoalan tersebut. Dari sembilan sarang yang ditemukan, lima sarang diketahui hilang akibat perburuan. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberadaan sarang di alam dapat menghadapi risiko ketika lokasi berkembang biak diketahui dan menjadi sasaran pengambilan satwa.
Ancaman terhadap Punglor juga berkaitan dengan perubahan habitat. Berkurangnya kebun salak dan perubahan fungsi lahan dapat mengurangi ruang hidup yang selama ini menyediakan tempat mencari makan, berlindung, dan berkembang biak. Karena itu, upaya menjaga Punglor tidak cukup dilakukan dengan melindungi individunya. Perlindungan perlu diarahkan pada habitat dan ekosistem yang menjadi tempat hidupnya.
Masyarakat Menjadi Bagian dari Konservasi
Keberadaan Punglor di kebun masyarakat menunjukkan bahwa masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga satwa liar di sekitar mereka. Langkah sederhana dapat dilakukan dengan mempertahankan vegetasi di kebun, tidak mengambil telur maupun anakan, tidak menangkap burung dari alam, serta menghindari gangguan terhadap satwa yang sedang berkembang biak.
Masyarakat juga dapat berperan dalam pemantauan. Informasi mengenai kemunculan burung, keberadaan sarang, maupun ancaman terhadap habitat dapat menjadi bahan penting bagi upaya konservasi apabila disampaikan kepada pihak yang berwenang melalui mekanisme yang tepat. Namun, informasi mengenai lokasi sarang perlu dikelola secara hati-hati. Publikasi lokasi secara terbuka justru dapat meningkatkan risiko perburuan.
Di sisi lain, keberadaan Punglor juga dapat dikembangkan menjadi bagian dari kegiatan pendidikan lingkungan dan pengamatan burung. Kawasan Turgo sendiri telah menjadi salah satu lokasi kegiatan birdwatching dan pendataan keanekaragaman burung. Data yang dihimpun masyarakat bersama Balai KSDA Yogyakarta, Taman Nasional Gunung Merapi, mahasiswa, serta pegiat pengamatan dan fotografi mencatat lebih dari 103 jenis burung di kawasan Turgo.
Bagi Balai KSDA Yogyakarta, keberadaan Punglor di Turgo menjadi bagian dari informasi penting untuk memahami keanekaragaman hayati dan kondisi habitat satwa liar di wilayah Yogyakarta. Pemantauan lapangan, penelitian, edukasi, serta kolaborasi dengan masyarakat dan mitra konservasi diperlukan untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap mengenai keberadaan dan kondisi Punglor di alam.
Keberadaan Punglor menunjukkan bahwa ruang hidup manusia dan satwa liar dapat berdampingan. Kebun masyarakat dapat tetap menjadi sumber penghidupan sekaligus habitat apabila unsur-unsur ekologis di dalamnya dipertahankan.
Menjaga Punglor karena itu bukan semata-mata menjaga seekor burung. Menjaga Punglor berarti menjaga pohon, kebun, serasah, sumber pakan, serta lingkungan yang menjadi tempat satwa menjalankan siklus hidupnya.
Dari lereng Merapi, Punglor mengingatkan bahwa konservasi tidak selalu dimulai dari kawasan hutan yang jauh dari permukiman. Konservasi juga dapat tumbuh dari kebun masyarakat, dari kepedulian warga, dan dari kesediaan manusia untuk berbagi ruang hidup dengan satwa liar (THS).
Sumber: Simfoni Lereng Merapi: Keajaiban Punglor Sleman dan hasil pengamatan Punglor di Turgo (dapat diunduh di https://drive.google.com/file/d/1yWnk0dLRFkKBhvcdjHEE0arMrx7cl2VC/view?usp=drive_link); Gunawan, S.Si (salah satu penulis, sekaligus PEH Ahli Pertama Balai KSDA Yogyakarta)
Editor: Tim Kehumasan Balai KSDA Yogyakarta
Penanggung jawab berita: Kepala Balai KSDA Yogyakarta
Kontak informasi: Call Center Balai KSDA Yogyakarta (0821-4444-9449)
